Perdana Ngaji Budaya: Komunikasi Profetik, Syair Gurindam Dua Belas, dan Semiotika Ferdinand De Saussure

Dalam membentuk kembali ruang diskusi yang menyajikan karya-karya ilmiah tentang kebudayaan, Suku Seni Riau menghadirkan program Ngaji Budaya yang pertemuan perdananya baru saja dilakukan dengan mengkaji sebuah artikel berjudul “Nilai-nilai Komunikasi Profetik dalam Syair Gurindam Dua Belas (Analisis Semiotik Ferdiand De Saussure)” pada Sabtu lalu di Studio Suku Seni (24/10). 

Dibuka dengan kata sambutan oleh Kepala Suku Seni, Marhalim Zaini menyebutkan bahwa Ngaji Budaya rencananya akan dilaksanakan dua kali selama sebulan dengan mengundang para peneliti untuk membahas karya ilmiahnya. Tidak hanya artikel, karya ilmiah juga terkait skripsi, tesis, disertasi, hingga penelitian independen juga bisa menjadi kajian yang tentunya mengenai kebudayaan. “Selain itu, Ngaji Budaya ini juga sebagai sebuah kerinduan akan diskusi-diskusi yang hari ini masih gremeng,” imbuhnya.

Bersama Destita Mutiara, S.Sos., M.A, sebagai peneliti yang juga menjadi pengkaji dari hasil penelitiannya ia berkisah bahwa artikel ini sebelumnya ialah karya ilmiah skripsinya saat menempuh di Universitas Muhamadiyah Yogyakarta pada tahun 2020. Dan pada tahun yang sama, karya ilmiah tersebut terbit dalam sebuah jurnal di Jurnal Studi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (Jasika).

Melaui paparannya, wanita yang kerap disapa Tiara ini menyebutkan bahwa kajiannya terbagi pada tiga konsep dengan Gurindam Dua Belas (GDB) karya Raja Ali Haji yang menjadi objek penelitiannya. Tiara juga menyebutkan bahwa penelitian ini merupakan kajian kepustakaan yang menggali nilai-nilai komunikasi profetik (komunikasi kenabian) dan mengkategorikannya melaui analisis semiotika Ferdinand De Saussure.

Diskusi berlanjut dengan berbagai aspek pertanyaan dari para peserta yang mendominasi dari kalangan mahasiswa. Adit, salah satu peserta bertanya mengenai relevansi GDB hari ini yang apakah menggambarkan realita hari ini? Menjawab hal tersebut, Tiara yang hari ini sedang berkhidmat di Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) menjelaskan bahwa GDB berisikan nilai-nilai berbentuk nasehat-nasehat dan menjelaskan bahwa hal tersebut masih relevan hingga hari ini.

Pertanyaan yang berbeda juga muncul dari Ilham, ia menanyakan mengenai pengalaman peneliti dalam menuliskan karya ilmiahnya hingga proses menentukan metode penelitian. Tiara yang mengambil gelar Komunikasi dan Penyiaran Islam saat berkuliah S1 tersebut menjelaskan bahwa di balik itu ia berkisah ada kesenangan dalam berbahasa terutama pada sastra, sehingga pilihan dalam kajiannya mengenai analisis semiotika.

Diskusi masih beralanjut pada beberapa peserta diskusi yang bertanya dan menanggapi. Hingga pada tahap akhirnya, Destita Mutiara menutup diskusi dengan mengingatkan bahwa kita untuk terus bergerak dengan mengeluarkan semua apa yang menjadi isi pikiran. Ia juga menambahkan, “Jangan takut untuk tidak punya teman karena hal yang ingin kita lakukan, dan buatlah diri semerdeka mungkin”. (H2M)