Suku Screening Episode 30: Simbol “Di Atas Meja” dan Konflik Penjudi pada “Taubat Selamat”

Melalui upaya untuk terus mengapresiasi film-film yang ada di Riau, dalam program Suku Screening episode 30 ini, Suku Sinema menayangkan dua film yang berjudul Di Atas Meja dan Taubat Selamat yang diadakan di Studio Suku Seni pada Rabu malam (14/10).

Dimoderatori oleh Ilham Ramadhan, diskusi berlangsung setelah dua film selesai ditayangkan. Bersama Kevin Saktia Lantara sebagai sutradara film Di Atas Meja dan Farras Al Hamdi sebagai sutradara Taubat Selamat. Dengan berbagai pertanyaan terpantik kepada dua sutradara tersebut dengan bercerita pengalaman tentang proses kreatif dalam penggarapan film-film tersebut.

Seperti Kevin Saktia Lantara (film Di Atas Meja) yang menamai kelompoknya sebagai Pedas Production menjelaskan bahwa film ini merupakan pemenuhan tugas akhir mata kuliah yang dilaksanakan pada Mei 2026 lalu. Sebagai film pertama yang digarap bersama teman kelompok, Kevin bercerita bahwa dalam prosesnya memiliki kesulitan dan tantangan tersendiri bersama teman-teman kelompoknya. Terutama mengenai waktu yang singkat, kesulitan menentukan lokasi, hingga penentuan waktu syuting untuk menyesuaikan jadwal teman-teman kelompok.

Di Atas Meja berkisah tentang Linda, seorang siswi SMA yang dihadapkan persoalan sosial mengenai ekonomi. Dengan Ibu yang bekerja sebagai PSK (Pekerja Seks Komersial) membuatnya tertekan karena teman sekolahnya yang mengetahui latar belakangnya. Belum lagi, Linda merasakan kesepiannya karena tidak adanya interakasi bersama ibunya. Dan “Di Atas Meja” menjadi satu-satunya tempat interkasi Linda bersama ibunya.

Farras Al Hamdi (film Taubat Selamat), bercerita bahwa penggarapan film ini merupakan kerja sama bersama Humas Kementrian Agama Kabupaten Siak saat ia menjalani program magang. Dengan prolog yang menghadirkan genre horor tersebut, Farras menjelaskan bahwa ide tersebut sebagai bentuk elaborasinya sebagai bagian dari ceritanya.

Berkisah tentang karakter bernama Selamat, yang mengalami gejolak batin untuk bertaubat dari judi. Dengan usia yang sudah menua, konflik hadir dengan pencarian Selamat untuk menemukan amal ibadah yang tetap bertahan meski ia sudah meninggal. Melalui pengetahuannya secara Islam yang ia dapatkan, ia menemukan sebuah amal dengan cara berwakaf.

Diskusi berlanjut. Begitu juga Kepala Suku Seni, Marhalim Zaini yang memulai tanggapan dengan sangat mengapresiasi kedua film secara satu persatu. Ia menanggapi bahwa film Di Atas Meja yang menggunakan gaya penceritaan simbolik memiliki daya yang menarik. “Namun demikian akan lebih menarik jika masih terus melakukan eksplorasi lebih luas lagi mengenai gaya simbolik menyesuaikan film yang diangkat,” imbuhnya.

Selain itu, menanggapi film Taubat Selamat, tanggapan berbicara mengenai adegan horor pada awal film, dan itu sangat diapresiasi karena masih minimnya genre horor hadir dalam perfilman di Riau, terutama di Pekanbaru. Dan sebagai saran, Kepala Suku Seni menambahkan bahwa perlunya memperbanyak konflik yang akan semakin membuat daya tarik dari filmnya.

Tidak hanya tanggapan dalam sesi diskusi, tanya jawab juga muncul dari para peserta yang hadir. Vici, yang menanyakan bagaimana proses editing pada film Taubat Selamat? Ia menanyakan karena mengetahui bahwa proses pengambilan film hanya menggunakan dua ponsel berbeda. Farras yang juga sebagai kameramen dan editor mengungkapkan bahwa, “Alat yang ada hanya ponsel, meski dengan dua ponsel yang berbeda merk, keduanya masih pada spek yang sama secara resolusi yang dihasilkan . Jadi memang tidak ada kendala dalam proses editingnya”.

Sebagai penutup diskusi Suku Screening Kevin sebagai Sutradara Di Atas Meja mengungkapkan bahwa film tersebut ingin menyampaikan bagaimana setiap orang memiliki alasan mengapa mengambil keputusan dalam hidupnya. “Dan apapun risikonya karena mereka tetap menentukan pilihan”.

Farras Al Hamdi juga menutup bahwa Taubat Selamat merupakan sebagai bentuk kampanye dari Humas Kemenag Siak mengenai wakaf, dan dengan film tersebut harapannya bisa dilihat dan menjadi edukasi kepada masyarakat luas. (H2M)