Setelah sukses tiga tahun berturut-turut (2023-2025), pada tahun 2026 ini Rumah Kreatif Suku Seni Riau kembali menyelenggarakan Festival Sastra Melayu Riau FSMR). Berbeda dengan tahun sebelumnya yang diadakan di Pekanbaru, kali ini FSMR diadakan di Pulau Bengkalis, tepatnya di Balai Suku Seni yang berada di Desa Teluk Pambang. Tahun ini FSMR kembali didukung oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikdasmen.
Selama 3 hari (20-22 Agustus 2026), FSMR yang mengangkat tema “Hikayat Sastra Pesisir” ini menggelar berbagai kegiatan. Antara lain berbagai jenis perlombaan seperti Barzanji, Rebana, Dendang Syair, dan Pantun Hantran Belanja. Selain itu juga digelar lomba permainan rakyat, seperti lomba Tinting, Pacu Tempurung, Congklak, Rimbang, Memancing dan Mewarnai gambar biota laut. Selain lomba, juga digelar Pelatihan Dendang Syair, Seminar Sastra Pesisir, Bazar Buku, Bazar UMKM, Penerbitan Buku dan Majalah, serta ditutup dengan pergelaran seni.


































Melalui tagline, “Bersampan Kata Meniti Bahasa, Berkayuh Sampai ke Pulau Sastra”, festival ini hendak memberikan penguatan terhadap sastra pesisir sebagai bagian penting dari perkembangan sastra Melayu Riau. Tidak bisa dipungkiri bahwa secara kewilayahan, Riau memang termasuk daerah kepulauan, wilayah maritim, sehingga sejarah bahasa dan sastra yang bertumbuh dan berkembang tak terlepas dari dunia pesisir.
Hal ini juga dipertegas dan diperbincangkan dalam Seminar Sastra Pesisir yang digelar pada hari kedua (21 Agustus 2026). Berkolaborasi dengan IAIN Datuk Laksemana Bengkalis, seminar yang dilaksanakan di gedung perpustakaan tersebut, menghadirkan narasumber Dr. Jarir Amrun (Dekan FDIK IAIN Bengkalis) dan Musa Ismail, M.Pd. (Sastrawan). “Sastra pesisir merupakan bagian penting bagi kehidupan masyarakat Bengkalis, maka harus didorong dan dijaga agar lestari melalui festival seperti ini,” demikian cuplikan sambutan Wakil Bupati Bengkalis, H. Bagus Santoso, saat membuka seminar secara resmi.

























Seminar dihadiri dan diberi sambutan pula oleh Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Hidayat Widiyanto, M.Hum. Selain itu juga hadir Kepala Balai Bahasa Riau, Umi Kulsum, dan Wakil Rektor 3 IAIN Bengkalis, Dr. Haris Riadi. Dalam sambutannya, Kepala Pusat memberikan apresiasi kepada Suku Seni yang telah sekian tahun berhasil menyelenggarakan festival ini. Ia berharap dukungan juga datang dari pemerintah daerah, sehigga festival ini dapat terlaksana di tahun depan.
Keseruan dan kemeriahan FSMR dapat disaksikan saat berbagai lomba digelar, terutama lomba permainan rakyat. Sebuah pemandangan yang tidak biasa, anak-anak setingkat Sekolah Dasar memainkan sejumlah permainan yang selama ini telah memudar, terutama karena digeser oleh game-online. Permainan ini diangkat kembali karena memiliki nilai edukasi dan juga nilai kepedulian terhadap lingkungan pesisir.


































Kemeriahan FSMR berlanjut hingga pada malam puncak, 22 Agustus 2026, yang digelar di Panggung Balai Suku Seni. Masyarakat datang tumpah ruah menyaksikan berbagai pertunjukan seni, baik dari sastrawan Riau maupun dari para pegiat seni lokal di Bengkalis, sambil mengunjungi ragam tenda-tenda bazar UMKM dan bazar buku.
Festival ditutup secara resmi oleh Kepala Pusat Pembinaan Bahasa, Kemdikdasmen, Hidayat Widiyanto, M.Hum. Setelah sebelumnya sambutan Bupati Bengkalis, yang diwakili oleh Asisten 2, H. Hambali, S.Pdi, menyampaikan apresiasi kepada Suku Seni Riau yang dapat menggelar festival di sebuah kampung yang jauh, di pulau Bengkalis. “Pemerintah daerah Bengkalis berharap festival yang mengumpulkan masyarakat banyak seperti ini, dapat terus digelar tahun-tahun mendatang, agar budaya Melayu khsususnya pesisir ini, semakin lestari dan berkembang…” ujarnya.
Kepala Suku Seni Riau, sekaligus Direktur FSMR, Marhalim Zaini, S.Sn., M.A, dalam sambutannya di malam penutupan menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung, baik materil, moril, pikiran, dan tenaga. “Saya tidak bisa bekerja sendiri. Festival ini tidak akan terlaksana tanpa kerja keras tim panitia, baik dari Suku Seni sendiri maupun dari panitia lokal. Dan terima kasih kepada seluruh masyarakat Teluk Pambang dan sekitarnya yang turut hadir dan memeriahkan kegiatan ini. Sesuai dengan konsep FSMR tahun ini adalah “festival rakyat,” tutup Marhalim.
© 2025 Rumah Kreatif Suku Seni Riau