Bincang Buku “Pancang-pancang Ingatan”: Menggali Sejarah Melalui Puisi

Selepas terbitnya buku puisi perdana karya Joni Hendri dengan judul “Pancang-pancang Ingatan”, Rumah Kreatif Suku Seni Riau kembali mengadakan kegiatan bincang buku yang keenam bersama dua pembahas, yakni Redovan Jamil dan M. Badri (13/6).

Acara dibuka secara resmi oleh MC, Vici Fathir. S, dan disusul oleh penampilan teater puisi dari tim Teater Suku Seni yang beranggotakan Afifah, Angga, Ayna, Shintia, Sultan, Syifa, dan Vina. Penampilan ini berhasil menghidupkan puisi berjudul “Senapan” yang merupakan salah satu karya dari buku karya Joni Hendri. Kegiatan dijeda oleh coffee break singkat, kemudian diambil alih oleh Hafiz selaku moderator yang memandu jalannya bincang buku bersama para pembahas utama.

Pembahas pertama, Redovan Jamil, memaparkan makalahnya yang berjudul  Pancang-pancang Ingatan dan Politik Memori Pascakolonial: Membaca Puisi-puisi Joni Hendri sebagai Narasi Perlawanan dan Rekonstruksi Sejarah. Redovan menjelaskan bahwa tulisan Joni Hendri seolah memosisikan sejarah bak sebuah lukisan yang dapat dikoyak dan disulam ulang, serta sebagai catatan sejarah yang ditransformasikan lewat perspektif personal ke dalam bait-bait yang puitis.

Berbeda dengan Redovan yang berfokus pada makna sejarah, M. Badri berfokus pada bagaimana karya Joni Hendri mampu menjadi “pancang” atau pemantik ingatan masa lalu pembaca, yang ia tuliskan melalui pengantar buku sekaligus menjadi makalahnya yang berjudul Memori sebagai Arsitektur Estetis: Menanam Tiang Kesadaran dalam ‘Pancang-pancang Ingatan’.

Badri juga mengungkapkan bahwa buku puisi ini menjadi jembatan antara fakta dan imaji, serta pengalaman personal yang dikemas dengan sebegitu matangnya hingga dapat menyentuh emosi pembaca secara universal. “Kita berziarah melalui puisi.” Ujar Badri dengan menambahlan bahwa, “Buku ini bertindak sebagai peta ingatan bagi pembaca, yang berhasil menyatukan kembali serpihan-serpihan memori yang sempat berserakan.”

Saat sesi tanya jawab berlangsung, Kepala Rumah Kreatif Suku Seni Riau, Marhalim Zaini, menanyakan dimanakah posisi Joni Hendri sebagai seorang penulis dalam dunia penyairan Riau. Kedua pembahas sepakat bahwa Joni, sebagai seorang penulis, memiliki kemampuan untuk mengimajinasikan sejarah secara luas dan tidak takut meninggalkan identitas lokalitasnya sehingga puisi-puisi yang ada tidak terpaku pada satu tempat saja. Senada dengan hal itu, Redovan menambahkan komentar mengenai penjiwaan penulis yang menurutnya totalitas, “Seolah-olah dialah sejarah itu sendiri.”

______________

Penulis: Alya Kurnia Dewi