Suku Seni Riau Gelar Focus Group Discussion: Sosialisasi, Penguatan Konsep dan Tata Kelola Sekolah Budaya Pesisir di Balai Suku Seni

Sehubung akan dilaksanakannya pengembangan program Sekolah Budaya yang sudah berjalan tiga tahun, Suku Seni Riau melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) guna sosialisasi program, penguatan konsep dan tata kelola Sekolah Budaya Pesisir yang diadakan di Balai Suku Seni, Desa Teluk Pambang, Bengkalis (30/05).

Paparan awal mengenai Sekolah Budaya Pesisir disampaikan langsung oleh Direktur Sekolah Budaya, Marhalim Zaini yang dihadiri oleh 15 peserta undangan dari berbagai lembaga pemerintah desa, akademisi, hingga tokoh-tokoh pegiat lingkungan. Dalam paparan tersebut dijelaskan maksud dari Sekolah Budaya Pesisir tersebut. Yang bervisi “Membangun kesadaran ekologis berkelanjutan melalui edukasi budaya lingkungan pesisir”.

Mengenai Sekolah Budaya Pesisir, “Semua unsur aktivitas kehidupan kita adalah budaya. Dan kebudayaan pesisir inilah yang akan kita tingkatkan” ungkap Marhalim yang juga menambahkan bahwa pendidikan adalah ruang paling ideal untuk membangun kesadaran yang berkelanjutan melalui pendidikan yang holistik, yakni otak, hati, dan aksi.

15 peserta undangan juga turut menyampaikan keresahan dan gagasannya, antara lain ialah Sariyono (Pj. Kades Teluk Pambang), Rupiah (Ketua BPD Teluk Pambang), Dedi Arianto (LPHD Teluk Pambang), Muhammad Nazir (LAM Desa Teluk Pambang, Saktiwan (Sekretaris Desa Pambang Pesisir), Sunarto (Pj. Kades Sukamaju), Desrizal (Sekretaris Desa Pambang Pesisir), Hamdan (Ketua Karang Taruna Teluk Pambang), Sobirin ( Relawan Literasi Masyarakat), Dr. Jarir Amrun (Akademisi), Samsul Bahri (Pegiat Lingkungan), Safridin (Pegiat Lingkungan), Hasnur Rasid (Yayasan Konservasi Alam Nusantara), Sumantari (Kepala SMPN 2 Bantan), dan Iskandar (Kepala SMAN 2 Bantan).

Dalam diskusi tersebut, berbagai penyampaian mengenai isu krusial, gagasan, hingga langkah-langkah solutif yang erat kaitannya dengan kebudayaan pesisir. Menilik dari kata ‘pesisir’, diskusi berkembang menyinggung generasi muda hari ini. Banyaknya pengetahuan yang saling terkait dengan kebudayaan pesisir masih banyak belum diketahui oleh generasi muda.

Selain pendidikan kebudayaan, pendidikan sejarah juga penting bagi generasi muda untuk lebih mengenal kampung halamannya. Hal tersebut juga disepakati bersama pada undangan diskusi untuk merumuskan untuk penulisan sejarah Desa Teluk Pambang untuk lebih mengenal kebudayaan yang mengakar secara turun temurun.

Dalam diskusi tersebut, seluruh peserta menyepakati untuk Sekolah Budaya Pesisir bisa terlaksana. Ada banyak hal mengenai kebudayaan pesisir yang bisa dipelajari oleh generasi muda. Mulai dari mengenal biota mangrove hingga pengelolaannya, sastra lisan maupun seni lainnya yang mengakar pada kebudayaan pesisir, hingga pengetahuan umum yang harapannya mampu merawat kebudayaan dan menjaga lingkungan. 

Melalui dukungan dari Tumbuh Institute demi terlaksananya FGD tersebut, berbagai luaran berupa rumusan konsep dan tata kelola diterima secara menyeluruh dari berbagai peserta undangan diskusi untuk bisa dikuatkan sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat pesisir, yang berdampak dan berkelanjutan nantinya.