Gelar perdana di tahun 2026, Malam Lentera Sastra (Mantra) kembali dilaksanakan oleh Suku Seni Riau dalam edisinya yang ke-enam, bertemakan “Membaca Taufik Efendi Aria” dengan berbagai pertunjukan seni, serta berkolaborasi dengan Komunitas Rangurai dan Sanggar Tempa, serta Oda Coffee yang sekaligus menjadi lokasi Mantra dilangsungkan (14/02).
Sebagai bentuk ruang bagi pembacaan dan apresiasi terhadap karya-karya lokal Riau, Joni Hendri dalam paparannya pada sesi diskusi, menyampaikan bahwa hal ini bertujuan untuk terus menghidupkan dan merawat ingatan kepada karya-karya para sastrawan yang ada di Riau. Terutama, kepada almarhum Taufik Efendi Aria, yang merupakan seorang penyair dan teaterawan asal Riau dengan membaca dan mendiskusikan karya-karyanya, umumnya kepada masyarakat Riau dan terkhusus kepada generasi hari ini.






Berbagai penampilan yang mengangkat karya-karya Taufik Efendi Aria ini, diantaranya terdapat pembacaan puisi, tari kontemporer, dan dramatic reading. Puisi-puisi yang dibacakan dalam Mantra diantaranya adalah Perjalanan Maut, Ruang Kosong, Perempuan Sorga I, Berhala, dan Doa Seekor Anjing.
Selain pembacaan puisi, tari kontemporer juga ikut ditampilkan tim tari Suku Seni yang merupakan alih wahana dari puisi Taufik Efendi Aria yang berjudul Sebelum Pergi Tidur. Tidak hanya pembacaan puisi dan dan tari kontemporer, salah satu naskah drama karya Taufik Efendi Aria juga menjadi salah satu agenda dalam dramatic reading oleh tim teater Suku Seni yang berjudul “Menanti Hari Panen”.






Beberapa agenda lainnya juga diisi dengan Solo Song dengan penampilan musik dari Joyce Luvina Hagaina (alumni Sekolah Budaya) yang membawakan lagu “Never Enough”, serta penampilan musik berjudul “Sampit” dari tim musik Suku Seni. (H2M)
© 2025 Rumah Kreatif Suku Seni Riau