Di penghujung tahun 2025, grup teater Suku Seni terpilih menjadi salah satu penampil dalam perhelatan Festival Teater Indonesia (FTI) yang diselenggarakan oleh Titimangsa dan Perkumpulan Nasional Teater Indonesia (PENASTRI) didukung Kementerian Kebudayaan. FTI digelar di 4 lokus, yakni di Medan, Palu, Mataram, dan Jakarta, selama bulan Desember 2025. Setidaknya ada 20 kelompok teater terpilih dari berbagai daerah tersebar menampilkan karya mereka di 4 lokus tersebut.
Suku Seni mementaskan “Panggil Aku Sakai” yang diadaptasi oleh Marhalim Zaini dari novel dengan judul yang sama karya Ediruslan Pe Amanriza, di Gedung Graha Bhakti Taman Ismail Jakarta, pada 14-16 Desember 2025. Garapan realis ini disutradarai langsung oleh Marhalim Zaini, dengan para pemain antara lain Laposa Mirdja, Joni Hendri, Baharsyah Setiaji, Putri Afrilla Rafina, dan Shofia Triana Tea. Selain itu diperkuat dengan tim produksi dan artistik yakni Alaik Haikal, Rahmadi, dan Titin Kasmila Dewi.





Novel yang diterbitkan Balai Pustaka tahun 1980 ini mengisahkan tentang konflik yang terjadi dalam masyarakat Suku Sakai yang ada di Riau. Konflik berkisar tentang tanah dan pemukiman yang akan dikuasai oleh pihak swasta yang didukung oleh pemerintah setempat. Warga Suku Sakai yang telah puluhan tahun menempati tanah nenek moyang mereka harus digusur dan pindah ke pemukiman yang baru. Sebagian besar setuju, dan sebagian yang lain menolak.
Lalu terjadi konflik antara Tokoh Batin Bandaro dari pihak yang bersetuju dan Bondang dari pihak yang tetap bertahan. Kisah ini oleh Marhalim dikembangkan sedemikian rupa, selain untuk kebutuhan panggung, juga soal keberpihakan kreatif. Misalnya, Marhalim tidak memosisikan Batin sebagai pihak antagonistik semata sebagaimana dalam novel, akan tetapi menyuguhkan satu reallitas lain bahwa sesungguhnya mereka justru diadu-domba oleh pihak-pihak luar.







Selain itu, ada sebuah wacana lain yang sedang disisipkan dalam konflik tersebut, yakni munculnya peran perempuan (dimainkan oleh tokoh Dayang, istri Bondang) yang berada di belakang perjuangan para suami mereka. Meskipun tidak dalam porsi yang luas, peran ini membuat kisah menjadi lebih dinamis dan lebih kompleks.
© 2025 Rumah Kreatif Suku Seni Riau