Berkolaborasi dengan Berbagai Elemen Masyarakat: RIMACFEST 2025 Gelar Perdana Di Balai Suku Seni, Desa Teluk Pambang, Bengkalis

Di penghujung tahun 2025, di tepian Selat Malaka yang berhadapan langsung dengan negeri jiran Malaysia, Rumah Kreatif Suku Seni Riau telah melaksanakan Riau Mangrove Art & Cultural Festival (Rimacfest) secara perdana dengan berbagai kegiatan mulai dari beberapa perlombaan, pelatihan, hingga penampilan seni dari masyarakat setempat yang digelar selama tiga hari di Balai Suku Seni, Desa Teluk Pambang, Bengkalis (25-27/12).

Berpagarkan hutan mangrove yang melindungi dari gempuran abrasi, perhelatan yang tersaji dalam fesitival seni budaya ini menjadikan mangrove sebagai isu utama. Dengan mengambil peran pada gerakan edukasi dan penyadartahuan serta kampanye seni budaya terhadap kelestarian mangrove yang harus terus dijaga.

Sebagai bentuk pelestarian mangrove melalui seni budaya, berbagai edukasi dalam bentuk pelatihan turut dihadirkan. Pelatihan-pelatihan tersebut diantaranya merupakan pelatihan pantun lingkungan, pelatihan menulis cerita mangrove, dan pelatihan kopi mangrove. Dengan diisi oleh berbagai usia mulai dari remaja hingga dewasa yang berjumlah belasan sampai puluhan peserta setiap pelatihannya.

Tidak hanya itu, perhelatan festival yang berturut dilaksanakan selama tiga hari itu juga diwarnai dengan beragam perlombaan. Mulai dari lomba menggambar, lomba baca puisi, hingga lomba masak tradisional, yang para pemenang diumumkan saat malam puncak berlangsung di hari terakhir. Dengan diisi oleh berbagai usia mulai dari anak-anak, remaja, hingga ibu-ibu yang mewakili RW (rukun warga) yang ada di Desa Teluk Pambang.

Selama tiga hari festival, setiap malamnya juga diisi oleh agenda Layar Kampung dengan melaksanakan nonton bareng bersama masyarakat Teluk Pambang dan sekitarnya. Mulai dari genre dokumenter hingga animasi bertema lingkungan juga turut ditayangkan.

Tidak hanya menonton film, beragam penampilan seni budaya dari masyarakat Teluk Pambang juga ikut meramaikannya. Dari penampilan tari zapin, kompang, rebana, hingga petikan gambus nostalgia Wak Salmin yang telah 50 tahun ia tinggalkan. Selain itu juga, beberapa peserta terpilih dari pelatihan pantun dan menulis cerita juga turut ikut memamerkan karyanya di atas panggung. Tidak ingin ketinggalan, anggota Suku Seni juga ikut menampilkan beragam pertunjukan, mulai dari tari tradisional, tari kreasi, hingga teatrikal puisi.

Dibuka secara resmi oleh PJ Kepala Desa Teluk Pambang, Sariyono yang menyampaikan harapannya bahwa festival yang ditaja oleh Suku Seni tidak hanya sampai di tingkat nasional, namun juga ditingkat internasional demi tujuan untuk terus menjaga lingkungan dan seni budaya di Bengkalis, secara khusus di Desa Teluk Pambang. “Siapa lagi kalau bukan kita yang menjaga dan melestarikannya,” imbuhnya.    

Dalam sambutannya dirangkaian pembukaan, Direktur Rimacfest sekaligus Kepala Suku Seni Riau mengungkapkan bahwa perlunya menjaga identitas kita, dari beragam seni  budaya, pantun, silat, serta mendongeng. “Dan ini menjadi tanggung jawab kita bersama untuk melakukan pembinaan terus menerus dalam melestarikan budaya kita,” ungkapnya.  

Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD), Indra Sukmawan juga menjabarkan bahwa terdapat 1001 hektar hutan mangrove yang ada di Pulau Bengkalis, dengan 22 spesis jenis mangrove yang tidak dirawat pasti akan habis. “Lewat seni budaya ini akan memberikan dampak positif, serta memberikan gambaran manfaat dan dampak dari mangrove ini”.

Festival yang sebelumnya bernama RIMAF (Riau Mangrove Art Festival) yang kini diperluas ruang lingkupnya menjadi RIMACFEST ini, mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan melalui Dana Indonesiana. Selain itu, beberapa instansi juga ikut mendukung festival ini yang diantaranya Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Desa Teluk Pambang, Badan Permusyawaratan Desa Teluk Pambang, serta Relawan Literasi Masyarakat Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (H2M)