Majalah SukuSeni

Majalah Sukuseni merupakan majalah seni budaya yang diterbitkan oleh Rumah Kreatif Suku Seni Riau. Rilis setiap empat bulan sekali sejak Oktober 2022, dengan ‘Sorot’ sebagai rubrik utama dalam majalah ini. Majalah Sukuseni berupaya dalam menggali dan menyajikan isu-isu penting kebudayaan bagi pemajuan kebudayaan di Riau. Serta rubrik tentang peristiwa seni-budaya, komunitas seni, seni sekolah, dan beberapa sajian menarik lainnya. Selengkapnya, Majalah Sukuseni bisa didapatkan melalui Sukushop atau dibaca secara langsung di Pustaka Suku Seni Riau. 

Edisi 1 (Oktober 2022 - Januari 2023)

Melalui sorot dalam edisi pertama ini, Majalah Sukuseni mengangkat isu utama yang mempertanyakan keberadaan dan problematika teater kampus di Riau. Menjawab tantangan dari para pengurus sanggar tentang dukungan yang seharusnya menjadi peran kampus, tempat sanggar teater bernaung. Dengan potensi keanggotaan yang sangat mendukung secara kuantitas, keberadaan sanggar teater di lingkungan kampus justru memiliki problematik yang sebaliknya. Menentukan karakter sanggar teater misalnya, yang dihadapkan dengan pertanyaan soal menentukan pilihan tentang bagaimana artistik dan gaya pertunjukannya. Namun, bagaimana solusi dalam menjawab problematika tersebut? Selengkapnya, Majalah Sukuseni Edisi 1 bisa didapatkan di Sukushop atau dibaca di Pustaka Suku Seni Riau.

Edisi 2 (Februari - Mei 2023)

Dalam edisi kedua ini, Majalah Sukuseni mengangkat isu utama dalam Rubrik Sorot yang berjudul Festival Seni Di Riau, Sudah Idealkah? Seusai pademi covid-19, belakangan festival kian marak. Khususnya di Riau, festival tidak hanya hadir di kota-kota, tetapi juga di daerah-daerah kabupaten/kota dengan skala yang beragam. Banyak pandangan dan pendapat tentang festival seperti apakah yang ideal untuk sebuah daerah? Dengan jawaban sementaranya tentunya sesuai dengan kebutuhan masyarakatknya. Namun demikian, festival tetaplah masih menyisakan banyak persoalan. Dari soal manajerial, sistem kurasi, hingga konsep program festival itu sendiri. Lalu, seperti apa festival yang ideal itu? Selengkapnya, Majalah Sukuseni Edisi 2 bisa didapatkan di Sukushop atau dibaca di Pustaka Suku Seni Riau.

Edisi 3 (Juni - September 2023)

Melalui liputan khusus Edisi Ketiga ini, Majalah Sukuseni menyoroti ihwal dunia perfilman di Riau. Yang sangat jarang mendapat perhatian, baik dalam kajian, ulasan, pemberitaan, bahkan sekedar semacam apresiasi. Dunia film Riau seakan tenggelam oleh aktivitas bidang seni lainnya, semisal seni pertunjukan dan sastra. Tidak hanya itu, dalam liputan ini juga menelusuri dinamika dan problematika dunia film Riau dimulai dengan menelisik keberadaan komunitas film di Riau. Selain itu juga, menyusuri bagaimana karya sineas muda di Riau, para penikmat film, sampai kepada para sineas muda dalam menjawab tantangan untuk memanfaatkan serta bersaing dengan konten-konten fragmatis di tengah gempuran zaman yangs serba digital hari ini. Selengkapnya, Majalah Sukuseni bisa didapatkan di Sukushop atau dibaca secara langsung di Pustaka Suku Seni Riau.

Edisi 4 (Oktober 2023 - Mei 2024)

Diedisi yang keempat ini, Majalah Sukuseni mengangkat liputan dengan menyoal infrastuktur seni di Riau. Memulai dengan menyoroti gedung Anjung Seni Idrus Tintin (ASIT) yang menjadi satu-satunya gedung megah yang dibangun dengan konsep yang baik, dengan skenografi yang matang, dengan cita-cita membangun salah satu ikon kebudayan Riau. Membicarakan ihwal infrastruktur seni di Riau, tidak bisa lepas dari gedung ASIT sebagai titik pandang awal hinga berbagai infrasturktur yang lainnya di Riau. Dengan realita yang begitu memprihatinkan, pada perkembangannya, progresnya yang lambat, fasilitas belum betul-betul memadai, program dan manajerialnya juga masih bertahan dengan pola lama, paradigma lama. Lalu apakah kita harus pesimis? Dan berhenti mempersoalkannya? Selengkapnya, Majalah Sukuseni bisa didapatkan di Sukushop atau dibaca secara langsung di Pustaka Suku Seni Riau.

Edisi 5 (Juni - September 2024)

Melalui sorot dalam edisi kelima ini, Majalah Sukuseni menelisik tentang dunia literasi Riau dengan tajuk Membaca Dunia Literasi Riau. Dengan kata “literasi” terasa telah demikian populer di lingkungan masyarakat hari ini, khususnya di dunia baca tulis, pendidikan, hingga dunia sastra, dunia buku, dan dunia pustaka. Sehingga kata literasi itu sendiri banyak disebut-sebut dalam pidato, seminar, diskusi, bahkan di kedai kopi. Namun, apakah dengan demikian menunjukkan bahwa masyarakat hari ini telah “melek” literasi? Apakah dengan begitu, dunia baca-tulis kita makin membaik? Buku-buku semakin digemari? Perpustakaan sekolah, kampus, umum, makin ramai dikerumuni? Atau, melihat praktik seni budaya hari ini yang kian marak, kian ramai orang terlibat dalam aktivitas seni budaya di masyarakat, bagaimana dengan dunia literasi seni budaya kita? Selengkapnya, Majalah Sukuseni bisa didapatkan di Sukushop atau dibaca secara langsung di Pustaka Suku Seni Riau.

Edisi 6 (Oktober 2024 - Januari 2025)

Dalam edisi keenam ini, Majalah Sukuseni menyoroti sekolah budaya sebagai ruang edukasi seni alternatif. Sejak usia dini hingga dewasa, kita telah disedikan ruang pendidikan bernama sekolah (formal). Mulai dari Paud, TK, SMP, SMA, hingga Perguruan Tinggi. Barangkali juga cukup banyak ruang pendidikan non formal yang berbentuk kursus-kursus. Mungkin juga ada dalam bentuknya yang lebih fleksibel, santai, terbuka, mengasyikkan, tetapi juga bersifat edukatif. Namun demikian, selalu saja “kebudayaan” dianggap bukan aspek utama dalam kehidupan. Padahal, setiap sendi kehidupan, setiap disiplin ilmu apapun itu, unsur budaya menjadi basisnya. Lalu apakah cukup ruang pendidikan yang tersedia hari ini untuk pengembangan diri kita sebagai manusia “seutuhnya”? Selengkapnya, Majalah Sukuseni bisa didapatkan di Sukushop atau dibaca secara langsung di Pustaka Suku Seni Riau.

Edisi 7 (Khusus) 2025

Diedisi yang ketujuh ini, Majalah Sukuseni menerbitkan edisi khusus tentang tiga tahun berjalannya Festival Seni Melayu Riau (FSMR), atau sejak 2023-2025. Apa yang diharapkan dari kehadiran sebuah festival sastra bagi Riau, selain sebuah perayaan bersama? Maka, sejumlah pertanyaan lain bisa susul menyusul. Berbagai jawaban juga timpal menimpali. Namun apapun pertanyaannya, apapun jawabannya, festival sastra diperlukan justru untuk mengakomodasi berbagai kemungkinan jawaban yang dapat didiskusikan. Karena festival, adalah ruang terbuka bagi lalu lintas gagasan. Akan tetapi, di tengah maraknya berbagai festival seni budaya, yang tampak mengejar kemeriahan belaka, dan di tengah perkembangan dunia sastra yang tak bergairah ini, apa yang hendak ditawarkan dari sebuah festival sastra? Selengkapnya, Majalah Sukuseni bisa didapatkan di Sukushop atau dibaca secara langsung di Pustaka Suku Seni Riau.